27 Mei 2026 - 22:03
Sikap Amerika terhadap Sudan Disebut Sekadar “Slogan Politik”

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, menyusul meningkatnya bentrokan di wilayah barat Sudan dan tewasnya puluhan warga sipil, menyerukan penghentian segera kekerasan dan penerimaan gencatan senjata kemanusiaan. Namun, para analis dan mantan pejabat Amerika menilai sikap tersebut hanya sebagai “slogan politik” yang tidak disertai solusi praktis.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – bersamaan dengan meningkatnya bentrokan di Provinsi Kordofan Barat, Sudan, yang disertai serangan drone dan menewaskan puluhan warga sipil, seruan internasional untuk gencatan senjata semakin menguat. Kementerian Luar Negeri Amerika meminta pihak-pihak yang bertikai segera mengakhiri kekerasan dan menerima gencatan senjata kemanusiaan demi melindungi warga sipil.

Muhammad Hamid Jum’ah, analis dan jurnalis politik Sudan, dalam wawancara dengan program Ma Wara’ al-Khabar menegaskan bahwa sikap Amerika tidak membawa hal baru. Menurutnya, Washington hanya mengkritik dan mengecam situasi kemanusiaan, lalu menyerukan penghentian pertempuran, tanpa menawarkan jalan keluar praktis dan jelas untuk mengakhiri perang.

Cameron Hudson, penasihat mantan utusan Amerika untuk Sudan, juga mengakui kegagalan upaya mencapai gencatan senjata. Ia mengatakan, pemerintahan Trump tidak menciptakan dorongan yang diperlukan dan tidak mengambil langkah hukuman yang tegas.

Hudson menambahkan bahwa Amerika hanya membatasi diri pada sanksi terbatas terhadap individu, serta menghindari pemberian sanksi terhadap Pasukan Dukungan Cepat sebagai sebuah institusi ataupun mengklasifikasikannya sebagai kelompok teroris.

Muhammad Hamid Jum’ah lebih lanjut menegaskan bahwa tentara dan pemerintah Sudan memberi prioritas pada solusi militer karena ancaman eksistensial yang diciptakan oleh Pasukan Dukungan Cepat. Ia menambahkan, wilayah-wilayah yang berada di bawah kendali tentara memberikan izin aktivitas kepada organisasi bantuan dan menerima para pengungsi.

Dari sudut pandang berbeda, Fathi Husseini, pemimpin redaksi surat kabar Sudan Al-Wasat, menyatakan bahwa Pasukan Dukungan Cepat sejak awal perang selalu menginginkan negosiasi. Ia menuduh pihak tentara menghambat proses tersebut dengan menaikkan tuntutan.

Husseini juga mengklaim bahwa jutaan warga Sudan di Kordofan dan Darfur hidup dalam kondisi ekonomi yang baik, dan menilai tentara sebagai pihak utama yang bertanggung jawab atas pembunuhan warga sipil.

Dalam kesimpulannya, Cameron Hudson menegaskan bahwa perang Sudan berada dalam sebuah persamaan eksistensial yang sulit dipecahkan. Menurutnya, Pasukan Dukungan Cepat terus berperang untuk menghindari tuntutan hukum dan pengadilan atas berbagai pelanggaran yang dilakukan, sementara tentara berperang untuk mempertahankan institusi negara dan legitimasinya.

Hudson memperingatkan bahwa konflik ini akan tetap berputar dalam lingkaran buntu, kecuali Washington mengajukan pendekatan diplomatik yang mampu mengurangi kekhawatiran kedua pihak dan menyeimbangkan kepentingan vital mereka di meja perundingan.

Your Comment

You are replying to: .
captcha